Fenomena Korean Wave Di Indonesia

Fenomena Korean Wave Di Indonesia

Aku bukan pecinta drama Korea, apalagi Kpop. Meskipun temantemanku sangat menggilai artis Korea, aku merasa biasa saja. Tapi, ketika aku ketemu channel youtube yang berisi kehidupan tentang Korea termasuk kulinernya di situ aku mulai tertarik.

Endless Love merupakan salah satu penanda awal demam Korea di Indonesia. Sejak ditayangkan di Indosiar tahun 2001, drama Korea lainnya makin marak disuguhkan di televisi nasional Indonesia.  Beberapa di antaranya adalah Winter Sonata tayang di SCTV pada tahun 2002, Dae Jang Geum atau Jewel in Palace yang tayang di Indosiar pada tahun 2005, Boys Over Flower tayang di Indosiar dan RCTI pada tahun 2009, Personal Taste tayang di Trans7 pada tahun 2010, Descendants of the Sun yang tayang di RCTI tahun 2016, dan Goblin tayang di Global TV tahun 2017.

Ada fenomena yang sedang terjadi di dunia kreatif. Istilah K-Wave atau gelombang dari Korea tidak hanya soal music, gaya hidup, dan drama. K-wave di Indonesia memang sangat tinggi, sehingga negara kita adalah pangsa pasar empuk konten dari negeri gingseng. Indonesia menjadi negara nomor dua dengan gelombang korean wave terbesar di dunia. Indonesia hanya kalah dari Korea Selatan, negara asalnya. Korean Wave atau Hallyu ternyata bukan terjadi di Indonesia saja. Di bawah Indonesia ada Thailand, Vietnam, Amerika Serikat dan Jepang.

Konten creator luar negeri khususnya Korea seakan berlomba-lomba membuat konten yang menyangkut Indonesia. Entah itu menggunakan Bahasa Indonesia, membahas budaya di Indonesia, dsb. Hal ini disinyalir karena konsumen di Indonesia sering overproud. Maksudnya, konten apapun menyangkut Indonesia yang disampaikan creator dari luar negeri sangat menarik karena membanggakan Indonesia. Dan yang mencengangkan, di tahun 2020 ini ada orang Indiensia yang menjadi bagian dari K-pop, tahu Dita Karang kan?

Memanfaatkan sifat manusia

Masih ingat Gangnam Style? Kesuksesan mendunia “Gangnam Style” didahului oleh meroketnya grup idol K-Pop seperti TVXQ, Super Junior, Bing Bang, 2NE1, Beast, Girl’s Generation, 2PM dan Wonder Girls yang mendominasi pasar musik pop di wilayah Asia. TVXQ mengadakan tur konser sebanyak 65 kali di Jepang sejak tahun 2006 hingga 2012 dan menarik sekitar 700.000 penggemar serta menjual lebih 6,3 juta album. 

Selain K-pop, variety show Running man juga membawa arus kuat juga di Indonesia. Salah satu sifat manusia adalah merasa bangga jika ada bagian dari dirinya, kelompoknya, atau bangsanya dibahas oleh orang dari negara lain. Buktinya, waktu ada artis-artis Korea Running man pakai sandal swallow. Responnya luar biasa ya, padahal sandal itu kalau dipakai turis lain pun terasa biasa.

Sebenarnya ini biasa saja, tapi sebagian besar orang Indonesia memberikan respon yang berlebihan. Hal ini dimanfaatkan oleh creator dan brand sebagai ladang bisnis. Artis-artis Korea tersebut tidak hanya dibuatkan konten music sesuai genrenya selama ini, namun merambah hal-hal lain seperti konten yang menyangkut Indonesia. 

Dari melihat yal yang menarik, tak biasa, suka, akhirnya kita ingin meniru. Bahkan untuk sesuatu yang agak berbeda dari nilai-nilai yang selama ini kita anut, tanpa sadar mulai merasuk gelombang Korean wave itu. Tren Mukbang misalnya, asalnya dari mana kalau bukan dari Korea? Kita punya kebudayaan untuk makan secukupnya, porsi sedikit, tidak berisik dan rapih. Lain dengan mukbang yang porsinya luar biasa banyak. Ekspresinya juga hebih banget baik itu suara maupun tampilan si orang yang makan. Makin kesini mukbang tak hanya seputar masakan korea, namun juga masakan lokal. Tapi ya caranya masih sama, ala-ala mukbang masakan korea.

Menurut data LIPI, perkembangan Korean Wave secara langsung memengaruhi pariwisata Korea Selatan. Pada tahun 2004 kunjungan wisata sebagai efek dari Korean Wave mencapai pemasukan 825 juta dollar, sementara tahun 2011, pemasukan pariwisata sebesar 937 juta dollar berasal dari pengaruh K-drama (Kim dkk, 2009). Di Hongkong bahkan sebanyak 28.3% orang yang berkunjung ke Korea Selatan menyatakan terpengaruh oleh K-drama, angka itu masih lebih kecil dibandingkan jumlah wisatawan Hongkong yang berkunjung ke negeri ginseng karena K-food (Oxford Economics, 2014: 13). Meskipun sebenarnya ketertarikan terhadap K-food juga merupakan pengaruh dari K-drama.

Artis Korea Sebagai Brand Ambassador

Semakin kesini tren artis Korea atau content creator Korea sebagai brand ambassador semakin menjamur. Dari mulai smartphone, mie instan, e-commerce, bahkan produk snack. Mereka tidak hanya nempel di kemasan produk, namun sering mengkampanyekan produknya di social media. Tentunya soft selling, secara manajemen artik Korea kan snagat professional. Mereka sangat paham jika tweet semacam “selamat pagi” dari si artis Korea akan mendatangkan engagement sangat tinggi.

Brand mendekatkan produknya dengan cara yang berbeda. Bukan lagi memperlihatkan si artis menggunakan si produk lalu merekomendasikan ke calon konsumen, tapi dengan menjadikan si ambassador tersebut menjadi bagian dari hidup calon konsumen.

Peluang untuk creator Indonesia

Korean Wave berkontribusi cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan, karena dalam industri musik dari tahun ke tahun terus berkembang. Pada tahun 2013 keuntungan yang diperoleh  mencapai 9,7%, menjadikan Korea Selatan masuk kategori kedua terbesar dalam pasar musik yang terus berkembang. Dan dampaknya, Korea Selatan mencapai keuntungan dalam bidang ini sebesar US 211 juta dan penjual live music mencapai US 409 juta. Sedangkan dalam industri televisi melalui K-Drama atau pun reality show dengan stasiun TV yang berpengaruh seperti KBS, MBC, dan SBS yang memberikan kontribusi sebesar 82% untuk ekspor budaya dengan keuntungan mencapai US 167 juta (Cultural times, 2015).

Luar biasa ya, engga cuma berefek ke budaya namun hingga ke ekonomi juga. Apakah kita salah jika merasa diserang? Oh tentu tidak, kita memang diserang Korean wave. Lalu bagaimana sebaiknya? Kita ikut hanyut saja menciptakan konten yang lagi disukasi masyarakat dunia khususnya Indonesia yaitu yang berbau Korea ataukah kita melawan arus? Sebenarnya kita bisa melebur Bersama tanpa takut kehilangan budaya. Misalnya kita yang suka buat film pendek, tema drama korea sudah klasik dan ketebak ya antara kaya dan miskin. Kita ambil sisi lain, bisa dari artistiknya atau fashionnya. Kisahnya Indonesia tapi cinema look nya K-drama kan jadi warna baru juga, ya engga?

Pemerintah Korea menjadikan artis K-Pop sebagai diplomat kebudayaan. Dukungan ini berupa kemudahan birokrasi dan melibatkan artis di acara kenegaraan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat Korean wave makin luas.  Semoga hal ini juga memberikan pelajaran juga ke engara kita, siapa tahu bisa diterapkan hal serupa. 

Dari sekian banyak arus gelombang Korean Wave, mana yang membuatmu hanyut?

Author: Innnayah

0 comments