Tips Memenangkan Lomba Foto dan Video

Lomba foto dan video, sesuatu yang sebenarnya bertujuan untuk menguji kemampuan diri dan dinilai oleh juri dari kalangan profesional. Namun tidak sedikit lho orang yang penghasilan kesehariannya berasal dari lomba seperti ini, dikarenakan hadiah dari lomba foto atau video apalagi tingkat nasional, hadiahnya pasti puluhan juta bahkan ada yang sampai ratusan juta atau lebih. Dan hal ini bukan hanya dilakukan pelajar saja, namun banyak dari kalangan non pelajar yang mengikuti lomba sebagai "mata pencaharian". Tapi bagaimana sih biar kita bisa menang dalam mengikuti lomba? 

Tips Memenangkan Lomba Foto dan Video

Tulisan seperti ini emang sensitif, tidak jarang muncul pertanyaan "Kok beraninya nulis kaya gini? Emang kamu siapa? ". Kredensial saya, saya cukup sering memenangkan perlombaan di tingkat nasional. Beberapa diantaranya adalah

  • Juara 2, Lomba foto Drone Festival Bahari Badung (2018)
  • Juara 2, Lomba video Bank Indonesia (2019)
  • Juara 1, Lomba video drone Sinarmasland (2019)
  • Juara 2, Lomba video Greenpramuka (2019)
  • Juara 1, Lomba video drone Shafwah holiday (2020)
  • Juara 1, Lomba video Iklan Layanan Masyarakat Jenius (2021)

Dll. 

Jadi apa yang saya tulis di bawah sebenarnya bisa dipraktekkan ketika mengikuti lomba dan bisa dipertanggungjawabkan. Langsung saja kita masuk ke tipsnya.

Baca yuk: 6 hal yang bikin lomba tidak menarik

Ketahui terlebih dahulu apa itu lomba subjektif

Lomba subjektif tentu saja lomba yang penilaian atau penentuan pemenangnya berdasarkan subjektifitas dari seorang manusia atau sekelompok manusia (dalam hal ini juri atau dewan juri dan penyelenggara lomba), bukan lomba objektif yang penilaiannya eksak, sangat jelas dan bahkan sebenarnya dapat dilakukan oleh mesin penilaiannya. 

Walaupun namanya lomba, sebenarnya lebih tepat kalau lomba subjektif ini adalah "undian berhadiah". Kenapa seperti itu? Beberapa alasan yang membuat saya menyebut lomba subjektif = undian berhadiah adalah:

1. Sekalipun pemenang dipilih juri berdasarkan kualitas pencapaian estetik dan artistik, hal ini sendiri tidak memiliki standar yang jelas, kemungkinan menang tetap sangat kecil atau bisa disamakan dengan kita ikut undian berhadiah promo kopi atau sabun cuci. Peserta lomba foto atau video biasanya sangat banyak, seringnya di atas 50 orang. Jadi misal peserta 50 ya peluang menang hanya 1 banding 50. Apalagi jika hadiahnya puluhan juta atau lebih, karya yang tersubmit bisa sampai ribuan atau lebih.

2. Namanya lomba subjektif, keputusan juri pasti ber'aura' subjektif juga. Kita membuat karya yang subjektif, dalam arti kita pasti menilai karya kita spesial, outstanding, dan mengagumkan. Ketika subjektif bertemu subjektif, outputnya tidak akan bisa diprediksi dengan rumus matematika apa pun.

3. Parameter penilaian yang diberikan panitia lomba ke dewan juri bisa berbeda-beda dari satu lomba ke lomba yang lain. Misal untuk lomba A ditekankan pada cerita dan keunikan, lomba B memfokuskan penilaian pada estetika dan teknis, lalu lomba C memberi penekanan pada kekuatan narasi, dan seterusnya. Yang jelas hal ini tergantung pada penyelenggara lomba dan sponsor. Dan ini tidak selalu diinformasikan pada pengumuman lomba. Sehingga sekali lagi, hasilnya sudah diprediksi.

Namun kita tidak bisa langsung pasrah begitu saja. Walaupun saya samakan seperti undian berhadiah, tidak sepenuhnya lomba subjektif benar-benar seperti undian berhadiah. Kita tetap bisa mengatur probabilitas kemenangan kita. Berikut ikhtiar kita untuk meningkatkan probabilitas kemenangan

Pertama, pelajari detail lomba secara lengkap

Mengetahui detail lomba sering kali disepelekan. Padahal ini merupakan langkah yang paling utama dan wajib untuk kita lakukan. Jika kita membuat karya yang hampir semua orang menganggap jelek, masih ada kemungkinan untuk menang, ini serius. Tetapi kalau kita tidak memenuhi persyaratan, mau orang sedunia bilang karya kita bagus tetapi probabilitas kemenangan kita menjadi 0.

Jadi selalu pahami detail lomba khususnya administrasi. Seperti Deadline, Persyaratan, Ketentuan, dan sebagainya. Jangan sampai kita tereliminasi atau terdiskualifikasi hanya karena tidak memenuhi persyaratan. Detail lomba biasanya tidak terlalu banyak. Kalaupun ada yang banyak, biasanya sangat mudah untuk kita penuhi. Jadi, biasakanlah membaca semua informasinya. Karena semua infonya penting.

Kedua, bentuk mental yang bagus

Tidak ada yang bisa membatasi niat kita mengikuti lomba. Jika mengikuti lomba untuk mendapatkan hadiah atau sertifikat atau relasi atau semuanya, semua itu sah-sah saja. Tetapi ada satu hal yang harus kita tambahkan dalam daftar niat kita, yaitu menjadi pemenang dalam setiap lomba yang kita ikuti. Saya pribadi membahasakan ini dengan "niat". Namun pembaca ini boleh menganggapnya sebagai goal, tujuan, atau visi. Semua itu sama saja.

Untuk itu jangan pernah menyepelekan atau menganggap bodoh orang lain, baik itu lawan maupun juri. Kita harus selalu menganggap lawan kita selalu dalam keadaan optimal sehingga tidak mungkin ada kesalahan sedikitpun. Dewan juri juga pasti memeriksa setiap detail dari karya kita. Jadi kalau kita masih "halah paling juri gak tau" , “halah, mana ada yang bisa bikin kaya gitu” dan sejenis itu, mending mulai perbaiki dari sekarang mental seperti ini atau sudah jelas pasti kalah. Mungkin bisa sih menang tapi itu keberuntungan yang amat sangat langka.

Untuk yang mengikuti lomba secara tim, hal yang jelas harus kita lakukan adalah kekompakan. Jangan pernah merasa lebih berkontribusi atau merasa disuruh-suruh atau merasa dimanfaatkan saja lalu melakukan hal konyol atau tindakan bodoh apapun itu. Kalau sampai tim kalah atau terdiskualifikasi, pada akhirnya kita juga menanggung akibat dari kebodohan-kebodohan sejenis itu. Kalo menang kan kita jadi ikut bangga kan?

Ketiga, lakukan riset

Biasanya, karya-karya yang dimenangkan dalam lomba merupakan karya yang memang berkualitas, unik, menarik, mengandung emosi, dan tentunya parameter tersebut tidak bisa dipisahkan oleh subjektifitas juri, kebutuhan penyelenggara dan kualitas lawan. Oleh karena itu, bagi yang belum menguasai, segeralah lakukan riset. Beberapa riset yang bisa dilakukan ialah:

1. Mengetahui background dan selera para Juri

Juri adalah penentu siapa yang menang. Kita perlu mengetahui minat dan selera juri. Setelah itu buatlah karya sesuai kesukaan mereka dengan tetap berpegang pada tema, syarat & ketentuan yang berlaku. Untuk melihat background maupun selera juri, jaman sekarang ada banyak cara misalnya dengan stalking sosial media mereka dan mencari bagaimana sih karya mereka, ideologi mereka dan karya-karya yang pernah mereka menangkan. 

2. Mengetahui kebutuhan penyelenggara

Beberapa lomba diadakan untuk tujuan memenuhi kebutuhan. Misalnya lomba yang diadakan oleh Shafwah Holidays. Mereka butuh apa sih? Video? Di sini kita harus berpikir secara lebih luas. Mereka memang butuh video, tetapi video tersebut bukan untuk dinikmati sendiri saja, melainkan untuk diposting di Youtube, Instagram dan apapun itu sebagai upaya promosi untuk menunjang bisnis. Maka dari itu, kita perlu membuat karya yang menarik perhatian supaya kebutuhan perusahaan terpenuhi. 

Jangankan lomba, kita menghadapi klien saja mengikuti apa yang dia suka kan? Bahkan perusahaan sekelas Marvel Studios membuat film dengan menyesuaikan selera atau keinginan dari penontonnya. Jika kita memaksakan untuk mengikuti ego kita atau membuat karya yang hanya bagus menurut selera kita, sebaiknya kita tidak membuat untuk lomba, namun lakukan di setiap saat, karya tersebut dapat kita ikutkan misalnya festival film, pameran, posting di sosial media pribadi dan apapun itu yang bisa menunjukan eksistensi karya kita. Toh misal ada yang suka, siapa tau ada rejeki dari situ.

3. Menggunakan metode ATM

Berkaitan dengan manusia, di dunia ini tidak ada yang 100% murni. Apapun yang manusia buat, pasti ada unsur lain yang mempengaruhi. Bahkan contohnya pemusik yang membuat lirik, mereka membuat lirik tentu dipengaruhi ingatan yang pasti sebagian dari sumbernya bukan dari mereka. Bahkan tidak jarang kan kita dengar musik dari musisi terkenal ternyata nadanya sama dengan karya orang lain? 

Maka dari itu, tidak ada salahnya melakukan metode ATM atau Amati, Tiru, dan Modifikasi. Hal yang paling sederhana dan mudah kita lakukan adalah cari karya-karya lawan kita yang sudah submit sebagai bahan untuk diamati atau bisa juga menggunakan mahakarya yang sudah jelas terbukti bagus sebagai referensi lalu tiru dan modifikasi sesuai tema lomba.

4. Mencari data atau yang valid dan benar

Bila mengikuti lomba yang memerlukan data. Pastikan semua data yang disertakan merupakan data yang benar. Contohnya kalau membutuhkan data tentang kesehatan, kita bisa mengutip dari WHO. Apabila berkaitan tentang internet, kita dapat mencari jumlah pengguna internet di Indonesia dari BPS.

Namun data tidak sebatas itu. Cara kerja suatu benda hingga kedetailan alat itu juga bagian dari sesuatu yang harus dipastikan kebenaranya. Gak lucu misal kita mau membuat video adegan di rumah sakit terus cara memasang perban saja salah. Jadi sebaiknya memang kita berkonsultasi terlebih dahulu soal apa yang kita buat ke ahlinya atau yang memiliki datanya secara lengkap dan benar.

5. Menambahkan emosi di dalam karya

Maksud emosi di sini, bukan berarti kemarahan ya. Melainkan ada rasa yang bisa kita sampaikan, baik rasa senang, gembira, semangat, haru dsb. Percayalah semua hal bisa dijadikan alat transportasi rasa. Tulisan, gambar, video, suara, semuanya bisa menyampaikan rasa. Semua tergantung bagaimana cara kita menyajikannya.

Karya yang mengandung emosi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menang dibandingkan yang hanya menyampaikan informasi saja. Atau bisa dibilang, semua karya yang menang pasti ada rasa di dalamnya. Kalau tidak percaya, coba riset salah satu karya yang mendapatkan juara 1 di perlombaan apapun itu, apalagi film pemenang oscar.

Keempat, persiapkan dan kerjakan jauh-jauh hari

Untuk menjadi pemenang khususnya foto dan video, tidak bisa terjadi hanya dalam satu malam. Kita perlu mempersiapkan semuanya mulai dari konsep, naskah sampai latihan dan mengerjakan lomba jauh-jauh hari. Ini dilakukan agar karya yang kita lombakan menjadi maksimal. Setidaknya apabila kalah, karya kita gak malu-maluin untuk diposting.

Tidak ada yang tau besok akan ada apa. Mungkin seminggu sebelum deadline, ada kejadian yang membuat sibuk dan tidak bisa menyelesaikan lomba. Oleh karena itu, setidaknya dua atau paling lambat satu minggu sebelum deadline, kita sudah harus melakukan produksi. Apabila ternyata harus revisi atau retake karena ada yang jelek, masih ada kesempatan. 

Jadi alangkah baiknya kita membuat linimasa jadwal yang terencana, kapan tahap ini selesai, kapan tahap itu selesai terutama apabila kita membuat banyak karya dalam satu waktu atau karya yang sangat kompleks

Kelima, minta penilaian orang lain

Satu kekurangan manusia ialah sulit melihat kekurangan diri sendiri. Untuk itu, jangan pernah sungkan untuk penilaian orang lain terhadap karya kita. Minta pula koreksi apa saja yang masih kurang. Kita bisa menerapkan ini kepada orang terdekat seperti rekan satu tim, keluarga atau teman. 

Tapi tentu saja orang bisa bias dalam menilai. Misal karya kita jelek tapi karena sungkan untuk memberikan kritik dia bilang bagus bagus saja. Atau mungkin juga kejadian model atau aktor yang kita mintai pendapat bilang jelek hanya karena dalam karya tersebut hanya dia tampak "kurang cakep". Jadi sebaiknya kita mencari orang lain yang ahli, objektif dan tidak sungkan memberikan kritik saran walaupun dianggap menyakitkan agar penilaian bisa obyektif dan kita bisa tau kekurangan kita

Keenam, revisi jika ada yang kurang

Melakukan revisi merupakan langkah yang tidak akan pernah bisa kita lewati. Sebab bagaimana pun juga kita harus bisa memastikan bahwa karya kita benar-benar keren, menarik, unik serta tepat. "Tepat" adalah kuncinya. 

Sekecil apapun hal yang dapat mengurangi nilai, misalnya saja ada bagian yang miss focus atau ngeblur walaupun sebentar, jangan pernah sungkan untuk minta take ulang. Selalu ingat bahwa lebih baik sengsara di awal tapi juara dan mendapatkan hadiah serta kebanggaan lalu menjadi portfolio positif. Itu akan jadi bayaran yang mahal dan tak bisa diganti dengan apapun atas semua usaha kita.

Terakhir, tawakal dan tidak berharap lebih

Setelah karya dikumpul maka langkah selanjutnya ialah berdo'a. Usaha tanpa do'a adalah Sombong. Do'a tanpa usaha adalah Bohong. Selanjutnya, namanya saja lomba, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Jika menang maka selamat. Kalau kalah? Ya sudah itu adalah pelajaran agar kedepan bisa tau kelebihan, kekurangan, memperoleh pengalaman serta mendapatkan "celah" dan "ritme" sehingga kedepannya bisa jauh lebih baik. Lagipula kalau karya kita layak untuk menjadi portfolio walaupun kalah itu sudah jadi sesuatu yang sangat bernilai.

1 comments