Penjelasan Lengkap Series Korea All Of Us Are Dead


Korea Selatan, jaman saya SD dikenal sangat keras dan jantan. Misalnya saja kalau dengar bela diri tae kwon do, pasti secara langsung otak teringat soal korsel. Mungkin karena efek perkembangan dan rebranding, korea selatan yang sekarang itu identik dengan pria yang "cantik" dan digandrungi wanita-wanita militan dengan produknya yang mendunia yaitu boyband, girlband dan drakor. 

Saya pribadi merasa itu adalah prestasi yang sebenarnya perlu ditiru indonesia. Korsel sekarang nggak hanya piawai membuat drama percintaan dan kolosal, bahkan ada lho film yang memenangkan oscar. Masih berlatar korsel, thriller zombi yang dengan setting tak biasa bisa tonton di Netflix dengan judul All of Us Are Dead. Bayangin nih lagi asik-asiknya sekolah, mau nembak gebetan, eh ada zombie. Jangan-jangan dari kita berimajinasi jika suatu saat memang ada wabah yang sehoror zombie. Oke, mari kita bahas

Sinopsis

Drama All of Us Are Dead menceritakan tentang merebaknya suatu virus yg berawal dari SMA Hyosan. Fokus cerita ada pada On-jo dan kawan-kawanya yg berusaha untuk bertahan hidup di tengah wabah virus yg menyerang sekolah atau kotanya.

Seperti beberapa film belakangan ini, film ini tidak jauh dari hal politis yang sering dikemukakan SJW, dimana inti dari pesan utama di film ini adalah soal bullying dan pelecehan. Saya merasa wajar akhir-akhir ini banyak film yang menerapkan formula agenda SJW karena film dengan formula tersebut bisa mudah untuk dipromosikan dengan membuat tranding di twitter dan jelas lebih mudah untuk jadi "film terbaik". Mungkin yang paling mudah adalah dengan meniru kesuksesan game " The Last of Us" yang mendapat predikat Game of The Year karena menerapkan formula SJW dalam hal ini feminisme dan LGBT. 

Kejanggalan All of us are dead

Secara overall film ini layak kok untuk ditonton dan memang bagus, namun saya akan memberikan tanggapan mengenai hal-hal yg menurut saya kurang dari drama ini :

Pertama, saya pribadi kurang suka dengan 'alasan virus ini tercipta'. Ya memang film ini salah satu tujuan utamanya adalah hal kecil yang kita lakukan akan berdampak besar pada dunia, misalnya dengan melakukan bullying maka secara tidak langsung kita turut dalam perusakan dunia. Namun tetap saja alasan virus tersebut tercipta tetap kurang masuk akal dan terlalu dipaksakan. Seorang ilmuwan yang 'sakit jiwa', mantan ilmuwan perusahaan farmasi, yang juga sebagai guru sains di SMA Hyosan membuat virus untuk anaknya agar si anak menjadi kuat dan bisa melawan siswa2 yg membullynya, namun gagal diterapkan dan malah berubah jadi zombie. Dia ilmuwan lho, masak tidak tau caranya membuat "obat" yang benar? Saya yakin anak S1 fakultas kedokteran atau farmasi diajarin hal ini di semester 1.

Kedua, apa bedanya sama formula yang diterapkan di hampir semua sinetron Indonesia? Menyisipkan adegan yang menunjukan sangat bodohnya orang-orang di film tersebut yang tujuannya tidak lain tidak bukan membuat jengkel orang yang menonton. Misalnya :

- Ketika mereka dikejar zombie, mereka tidak mengecek kelas-kelas yg kosong untuk sembunyi. Mereka malah terus berlari ke atas. Mungkin karena fokus drama ini adalah keluguan anak SMA ketika sedang dikejar zombie.

- Sudah jelas digigit zombie dan tau kalo yang kayak gitu 100% nggak akan selamat dan hanya jadi beban, tapi kenapa orang-orang sampai rela berbohong kalau dia tidak digigit? 

- Ketika ada zombie yang masuk ruang rekaman. Sudah tau kalau PC adalah sesuatu yang paling penting disana malah diambil untuk memukul zombie. Padahal banyak sekali barang yang tinggal mereka pilih selain PC ntuk melakukan itu. 

- Adegan receh seperti 'padahal tinggal tutup pintu' sering masuk dalam film. Misalnya ketika mereka memancing zombie biar berkerumun di kelas yang disekat menjadi dua supaya mereka bisa kabur. Coba kalau pas mereka kabur di lorong yg kosong itu pintu kelasnya ditutup dulu, seenggaknya mereka akan punya banyak tambahan waktu sebelum bener-bener lari kenceng.

- Apaan-apaan sama cara mati ayahnya On Jo itu. Adegan 'padahal tinggal tutup pintu' ini juga terjadi di sini dan menjadi hal konyol penyebab matinya ayah On Jo. Salah satu scene yg mengecewakan mana dia udah dateng jauh-jauh, dengan cara kabur dari markas militer, tertembak, renang, diancam, nyolong perbekalan pokoknya sengsara lah. Padahal tinggal pintu lapangannya ditutup, dan mereka lari bareng-bareng tanpa ada yg mati. Saya berharapnya biarpun mati ya yang bener matinya. Padahal kan dia pemadam kebakaran, mantan perwira militer tapi cara berpikirnya seperti itu. Ok karena dia tergigit duluan, tapi saya rasa bisa dibikin jauh lebih baik cara matinya.

- On Jo yang udah tahu bapaknya sengsara sampai mengorbankan nyawa biar dia hidup, malah pasrah digigit mbak ketua kelas. Ya meski ada plot armor dimana si ketua kelas bisa mengendalikan diri, tapi apa nggak kasian sama usaha bapaknya demi dia hidup? 

Dan masih banyak adegan bodohnya, capek kalo nulis satu-satu. Saya yakin yang udah nonton sampai selesai pasti udah tau semua. 

Ketiga, banyak sekali adegan yang terbuang sia-sia  misalnya adegan perpisahan On-jo dan I-sak. Bagaimana tidak, adegan yg seharusnya membuat penonton sedih hingga mengurai air mata malah terkesan biasa saja. Pengembangan emosi antara karakter On-jo dan I-sak belum banyak ditampilkan, sehingga adegan yang seharusnya emosional menjadi sia-sia. Seharusnya adegan ini bisa ditampilkan nanti saja di pertengahan episode. 

Keempat, banyaknya tokoh-tokoh dan plot cerita yang menjadi kurang penting dan alurnya yang amat sangat lambat. Salah satu yg paling mencolok adalah gadis yg melahirkan di toilet itu. Sama sekali nggak nyambung sama plot. Begitu pula dengan kemunculan emak Cheong San sebagai zombie cuma memberikan secuil perkembangan karakter kepada Cheong San. Begitu pula sama cerita dari tentara jalur wamil yang akhirnya jadi zombie, atau kisah sedih jenderal yang akhirnya bunuh diri. Seharusnya dengan menghilangkan plot kurang penting dan mempercepat alur, sinetron ini bisa selesai hanya dalam 6-9 episode.

Kelima, walau inti dari tujuan pesan SJW-nya ada pada Eun-ji dan Gwi-nam, sangat disayangkan kedua karakter ini tidak dipertemukan. Padahal, dengan tujuan menyampaikan pesan soal bullying, orang akan berharap Eunji bisa membalas dendam terhadap Gwi-nam yg telah membully dia. Karena baik dia maupun Gwi-nam sama-sama memiliki kekuatan yang diharapkan dari virus tersebut. Tapi sampai episode akhir tidak ada adegan duel antara keduanya. Walau menurut saya pribadi tidak perlu, tapi bisa lah kalo dijadikan sebagai service untuk penonton  daripada karakter Eun Ji yang dibuild menjadi badass cuma berakhir jadi bahan penelitian. 

Keenam, terlalu banyak plot armor. Misalnya karakter Cheong San dan Su Hyeok yang disukai On-Jo seperti punya superpower. Jadi ketika dia lagi bertarung dengan zombie ya penonton akan beranggapan "halah paling engga mati". Plot armor Gwi Nam juga lumayan menjijikan, bukan secara literally ya, tapi semacam sinetron ini mau all out dalam mewujudkan kalimat "orang jahat matinya terakhir."

Ketujuh, banyaknya adegan yang tidak bisa diterapkan di kehidupan nyata. Misal saja adegan lari-larian yang banyak menguras tenaga dan juga pasti seenggaknya bikin haus. Iya emang di tengah percakapan mereka bilang kalau manusia bisa bertahan 3 hari tidak makan tidak minum, namun ya dengan catatan tidak ada aktifitas berat seperti lari-lari dan gelud.

Kedelapan, kita masuk ke teknis. 

- Efek suara. Kerasa nggak? Beberapa kali efek suaranya terdengar berlebihan dan sangat tidak natural. Misal suara tulang-tulang dari zombienya, dan yang paling saya ingat sewaktu Cheong San mencabut name tag di pakaiannya, suaranya kayak lagi ngeremes plastik secara brutal. Mungkin teknik foley nya harus diperhatikan agar kesannya tidak berlebihan. Tau foley kan?

- CGI nya belum mulus. Nggak perlu banyak komen soal ini ya, keliatan jelas dari si bayi, pemandangan kota yang terbakar, roket dan masih banyak lagi. Terasa seperti awal kemunculan CGI di film-film Hollywood. 

- Pengambilan gambarnya kurang luas. Yang saya ingat saat Cheong San dan Su Hyeok memanjat tembok luar, itu sama sekali nggak ada shoot yg merekam dari sudut pandang mereka di ketinggian. Jadi terasa kurang greget, serasa mereka tidak benar-benar di tempat tinggi. Di scene ini, akting keduanya juga memperparah keadaan. Penonton yang tidak paham film pun jadi yakin sekali entah di bawahnya ada bantalan atau itu set studio yang tidak dada tinggi-tingginya sama sekali. Rasa ngerinya nggak dapet.

Kesembilan.  bisa kita ketahui bahwa wabah virus ini fatality ratenya bisa sampai 100%. Digigit zombie? Ya tinggal tunggu 10 menit secara medis tubuh yang digigit sudah mati, walaupun masih bergerak-gerak. Tapi entah kenapa virus yang dikategorikan sebagai epidemi tersebut seolah tidak menyita perhatian dunia, bahkan negara pun tidak terlalu. Yang diperlihatkan adalah perubahan status Hyosan menjadi darurat militer. Berdasarkan fatality rate yang sampai 100% tuh harusnya dunia bakal berhati-hati dan wajib berspekulasi bahwa virus ini ada di setiap negara karena cara penularan yang tidak diketahui. Konsep zombie di virus ini ditularkan melalui gigitan. Tapi ada juga yang ditularkan melalui luka yang sedang terbuka, misalnya dalam adegan Su Hyeok menularkan virus melalui darah yang nempel di kayu-kayu. Tapi yang aneh kan masalah luka para survival ini dimana-mana, darah berceceran dimana-mana sampai beberapa muncrat-muncrat tapi kok aneh nggak ada yang terinfeksi dari sana. Banyak kan adegan lagi rebahan ditimpa zombie terus darahnya netes-netes. Masuk ke mata, kena mulut tapi tetep ngga kenapa-kenapa. Ditambah dengan adegan diguyur air hujan, malah mangap sambil minum air hujannya. Ada darah lho itu.

Kesepuluh.  Banyak continuity di film ini yang terlewat. Misalnya saja hal-hal kecil yang mungkin kurang diperhatikan tapi sangat membuat penoton merasa aneh. Salah satu contoh saja, sepatu On-Jo yang terlihat sangat bersih seperti baru padahal berapa kali melewati zombie, kena darah, kesiram hujan, lewat lumpur, tanah lapangan, hutan, material bangunan dan sebagainya. Tapi sepatunya kinclong. Walaupun sepele ya, sebagai film standar internasional sudah seharusnya hal-hal yang seperti ini diperhatikan. Bahkan misalnya sepatunya jebot dan tidak bisa dipakai lagi ya dibuat lah sepatu yang mirip dengan keadaan sebelum jebot.

Kesebelas. Awalnya saya berpikir, ada nggak sih yang kebal dari virus ini? Dan setelah nonton film dari awal sampai akhir ternyata tidak ada. Tapi ketika diperhatikan, dalam film ini ada 2 tipe zombie yaitu:

- Zombie yang punya kekuatan diatas rata-rata manusia dan masih punya kesadaran. Sepertinya sih kalo lama nggak makan alias kelaparan, insting zombienya bisa mendominasi. Mungkin ini yang diharapkan pak guru biologi biar anaknya jadi kuat. 

- Zombie pada umumnya, nggak punya kesadaran, nggak bisa mikir, instingnya hanya makan manusia normal. 

Dari sini saya jadi teringat apakah jenis zombie ini terinspirasi dari serial Resident Evil soal jenis tumbuhan yang membuat orang jadi zombie? Bagi penikmat resident evil pasti tahu ada namanya plague atau plaga yang jenisnya ada dominan dan budak. Plaga dominan bikin yang terinfeksi jadi sangat kuat dan dan berakal tinggi sedangkan plaga budak ya jadi zombie biasa yang kecerdasannya rendah. Ada pula virus uroboros yang mana konsepnya juga sama, dimana virus ini menggunakan konsep seleksi alam yaitu yang cocok akan bertambah kuat dan yang tidak cocok jadi zombie.

Yang Bikin Film Ini Keren

Sudah wajar film itu ada kekurangannya, namanya juga buatan manusia. Tentu saja dong banyak juga kelebihannya. Sekarang saya akan menulis apa yang membuat saya terkesan dari sinetron/film ini. 

Pertama, penyampaian tentang isu sosial yg terjadi pada pelajar di Korea Selatan diceritakan cukup baik. Misalnya tingkat setres yg dirasakan oleh gosam (pelajar tingkat akhir SMA), persahabatan, kasih sayang orang tua, kisah percintaan, isu hamil diluar nikah, orang berkonten yang rela melakukan apapun, hingga agenda SJW soal bullying semuanya digambarkan dengan cukup baik dalam drama ini.

Kedua, karakter developmentnya sangat bagus. Mari kita sebut beberapa saja biar tidak banyak. 

- On-jo. Bisa dibilang dia adalah karakter utama dalam sinetron ini. Karakternya dibentuk jadi sangat annoying dan 'bodoh'. Banyak tersirat dari cara dia bertindak, memutuskan sesuatu, pilihan menyia-nyiakan usaha ayahnya, memperlakukan orang yang menyukainya, sampai dikenal sebagai orang dengan ranking terbawah. Walaupun mungkin karakter Nayeon bagi kebanyakan orang sifatnya paling menyebalkan, sebenarnya bagi saya pribadi, karakter On-Jo tingkat menyebalkannya melebihi Nayeon. Intinya semoga istri saya nggak seperti itu lah. Tapi bagi saya, dia karakter terbaik di film ini.

- Nayeon. Yes karakter ini memang sengaja dibuat untuk dibenci penonton. Orang sudah merasa benci dengan karakter ini sejak awal kemunculannya. Tapi yang keren adalah di tengah film, para penonton dibuat untuk gagal atau batal membenci Nayeon khususnya ketika dia sudah 'tobat', ketika ingin kasih teman-temannya makanan dan ketika nonton rekaman handicam bahwa akhirnya tau kalau tidak semua orang seberuntung dirinya. Akting dan pembawaannya sangat bagus. Penonton bisa merasakan banyak emosi kesal dan berempati dalam waktu yang tidak terlalu jauh. Saya nobatkan dia sebagai karakter terbaik kedua. 

- Su Hyeok. Berbeda dengan Nayeon yang dibuat untuk dibenci, Su Hyeok ini dibuat untuk disukai penonton. Sayangnya tokoh Su Hyeok dibuat terlalu sempurna alias kurang realistis dan kurang manusiawi jadi saya pribadi kurang suka dengan metode menciptakan 'hero' seperti ini.


- dan masih banyak karakter yang lain. Sebenarnya saya kurang suka dengan pembentukan karakter yang dibentuk dengan cara layaknya sinetron Indosiar. Yang jahat ya jahat banget, yang baik ya baik banget, yang bodoh ya bodoh banget dan yang sempurna ya sempurna banget. Walaupun begitu membentuk orang sampai penonton tau sifatnya layak dicungi jempol

Ketiga, akting dari beberapa aktornya sangat wow. Adegan paling berkesan menurut saya adalah adegan ketika Nam-ra yg berusaha menahan diri untuk tidak menggigit On-jo. Ekspresi semua emosi Nam-ra terlihat, seperti hampir tidak bisa mengendalikan hasratnya. Ekspresi menyesal dan benci dengan apa yg dia lakukan terlihat jelas. Intinya ekspresinya menggambarkan semua. Pokoknya jos lah akting mbaknya ini. 


Begitu juga dengan adegan bunuh diri yg dilakukan oleh pak jenderal yang menjabat kepala darurat militer, orang yg memerintahkan untuk melakukan pengeboman di Kota Hyosan. Saya tidak menyangka dia akan melakukan bunuh diri tepat setelah dia berbincang dengan istrinya di telepon. Sepertinya dia tidak bisa menanggung beban moral dari perbuatannya. Penyesalan yg teramat besar tergambar jelas dalam adegan ini. Di luar itu, akting beberapa pemain terasa hambar, tapi saya cukup puas dengan cara setiap pemeran memainkan perannya.

Keempat, banyak detail-detail kecil. Misalnya saja semacam adegan zombie yang jatuh dari jendela meski fokusnya bukan kesana. Juga hal-hal yang sepertinya sepele misalnya ketika mereka menyebutkan "Train to Busan" atau dialog "di film-film kan biasanya gini dan gitu". Cukup keren sih karena ya selain mempromosikan film sesama film korea, dalam membentuk ceritanya terasa kalo anak-anak disana beneran anak SMA yang habis nonton drama zombie. Ceritanya mungkin akan janggal ko tokoh-tokoh disana bersikap seakan-akan zombie itu fenomena baru yang nggak pernah diprediksikan siapapun termasuk film. Agak kurang masuk akal jika setting waktunya adalah masa sekarang. 


Kelima, timing penempatan footage, musik, score, foley yang pas. Misalnya ketika awal film dimulai, ada musik yang dinyanyikan tim padus yang bagi saya sangat bagus. Dan ternyata di tengah film dimanfaatkan dong musik ini, tepatnya pas adegan ketika para survival ini mau ke atap dengan menarik perhatian zombie biar pada masuk kelas. Musiknya yang dipakai sangat pas jika dipadukan dengan keadaan saat itu. Feelnya itu pas lah.

Analisa

Yang kita tidak tahu, bagaimana sih nasib jenderal yang bunuh diri? Bagaimana sih nasib Choeng San? Bagaimana kok si mbak Nam ra bisa sehat? Siapa yang dimaksud "orang orang seperti aku" oleh mbak Nam ra? 

Pertama, soal jenderal yang bunuh diri. Memang sih disitu diceritakan bahwa sebelum "istirahat" setelah bom ditembakkan, pak jenderal (komandan darurat militer) ini meminta anak buahnya untuk menggantikannya. Mungkin kalau harus diilustrasikan ya kayak pak Soekarno yang kasih supersemar ke pak Soeharto, atau kalau di dunia PNS tuh menunjuk PLT gitu. Nah sudah jelas walaupun off screen, pak jenderal ini pasti lama nggak muncul, dicek ruangannya ternyata mati dan dimakamkan dengan layak. Karena sudah ada penggantinya, nggak akan mempengaruhi keadaan.

Kedua, soal nasib Choeng San. Saya pribadi beranggapan kalau dia itu berubah jadi zombie sejenis Gwi Nam, Nam ra dan Eun ji. Ada alasan kenapa saya mikir gini :
- Ketika Gwi Nam ketemu dengan geng On jo dkk., kekuatan mereka tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Gwi Nam seorang diri. Artinya jelas Gwi Nam ini jadi zombie super yang sangat sulit untuk dikalahkan manusia biasa. 
- Saat Gwi Nam muncul, satu-satunya yang bisa mengalahkan adalah Nam ra. Itupun karena Nam ra juga termasuk zombie super, sejenis dengan Gwi nam. 
- Ketika di sekolah yang baru dibangun, Gwi nam nemu lagi sama geng On jo. Tapi kali ini dia kalah bukan karena geng On jo, tapi karena suara drone yang jadi kelemahan orang yang terinfeksi virus Jonas. 
- Nah kesimpulannya dapet kan? Setelah Choeng san digigit Gwi nam, kok si Choeng san lama sekali nggak berubah? Selain itu si Choeng san bisa imbang 1 lawan 1 lawan Gwi nam. 

Ketiga, kok Nam ra bisa sehat? Sepertinya memang virus Jonas yang diharapkan tuh gitu. Dia jadi sangat kuat tapi sehat. Tapi ternyata jadi zombie super ini perawatannya agak susah, dimana kalau lapar insting zombie nya bisa sangat mendominasi. Bisa dilihat ketika Eun ji yang makan ikan hidup dan makan orang yang suka sama dia. Si Nam ra yang pengen makan teman-temannya. Atau dari dialog Gwi nam yang bilang "untung aku kenyang, kalo lapar kamu bisa mati". Dari sini saya rasa zombie super bisa tetap sehat asalkan jangan sampai dalam kondisi lapar. 

Keempat, maksud perkataan Nam ra itu apa? Kemungkinan ya ada 2. Memang yang seperti Nam ra, Eun ji dan Gwi nam itu sebenarnya banyak. Karena mereka berakal, mereka pasti bisa dong selamat dari ledakan. Atau jangan-jangan yang dimaksud adalah Gwi nam dan Cheong san? Banyak itu relatif kan?

Apakah ada seri 2?

Bisnis film atau sinetron tuh kurang lebih ya kalo cuan lanjut, kalo feedbacknya buruk ya stop, daripada ruginya malah makin besar. Makanya saya perlu analisa dari segi bisnis dan cerita. Dari analisa di atas, ada beberapa tinjauan untuk bisa menjawab pertanyaan ini. 


Tinjauan dari segi bisnis

Banyak film yang endingnya menggantung, tidak jelas, anti klimaks dan sejenis itu. Bukan hanya karena memang "filmnya atau ceritanya begitu", tapi untuk film yang profit oriented, hal itu adalah untuk mempersiapkan jika ternyata feedback dari penonton positif, bisa dilanjutkan seri 2 dan seterusnya. Dikarenakan film ini secara marketing sudah berhasil menjadi top Netflix, ramai di Twitter, dan ditonton banyak orang, dan mendapat cukup review positif, jika saya produsernya maka seri 2 harus segera dibuat. Cuan bro.

Tinjauan dari segi cerita

Berkenaan soal cerita dibuat menggantung, memang cerita apa sih menggantungnya? Saya akan sebutkan 5 point yang mana cerita tersebut harus dijelaskan di seri selanjutnya:

Pertama, cara kerja virus Jonas yang belum seutuhnya dijelaskan. Misalnya pada kejadian :
- Nam ra digigit oleh Gwi Nam saat menolong Su Hyeok di tangga sekolah. Walau sudah digigit, Nam ra juga tidak menunjukkan perubahan layaknya zombi pada umumnya tapi jadi zombie super seperti Gwi Nam dan Eun ji. Saya berpikir apakah yang digigit zombie super akan jadi zombie super juga? Ternyata tidak, karena Gwi nam juga menggigit beberapa murid, mereka juga jadi zombie biasa. Eun ji yang menggigit guru BK juga jadi zombie biasa. Bahkan Gwi nam jadi zombie super sendiri juga bukan akibat dari digigit zombie super. 

- Ada penjelasan dari pencipta virus Jonas yaitu virus ini mengubah manusia menjadi zombi dengan cara jantung mereka berhenti, tetapi virus merangsang otak dan menggerakkan tubuhnya. Mereka agresif memburu manusia dan cenderung merasa ketakutan dan ingin menggigit sebagai bentuk pertahanan diri. Tingkah mereka seperti mayat hidup. Mereka bisa berjalan, namun pandangan kosong, tubuh berlumuran darah, tidak dapat berbicara, apalagi berpikir. Kok ada yang beda? Mungkin sih karena virus ini agar harapan penciptanya terjadi, secara perhitungan cocok pada segelintir orang saja. kebetulan anaknya dan dia sendiri tidak cocok. Dijelaskan juga kan ternyata banyak yang seperti Nam ra, walaupun saya juga nggak tau maksud "banyak"itu apa

- Dan kenapa Nam Ra indra-indra nya menjadi lebih tajam, seperti mampu mendengar dan mencium dari jarak jauh. Selain itu, tenaganya berkali-kali lipat bertambah. Disini hal tersebut belum dijelaskan secara rinci pengaruh virus Jonas terhadap hal tersebut. Apakah virus tersebut memiliki semacam kemampuan regenerasi? Apakah virus tersebut mampu merangsang otak yang mempengaruhi peningkatan kemampuan bekerja alat pengindra? 

Kedua, ending si Nam ra bilang kalau banyak yang seperti dirinya. Sebelumnya saya berasumsi bahwa itu adalah Gwi nam dan Cheong san. Tapi sebenarnya ada banyak asumsi salah satunya adalah yang seperti Nam ra adalah orang-orang hasil eksperimen dari virus Jonas yang dikembangkan. Kenapa kok gitu? 

- Berapa banyak yang menunjukan banyaknya penelitian setelah pengeboman. Ada adegan juga dimana anggota Intelligence Service (yang entah subtitlenya kok BIN sih) yang membawa anak dan istri pencipta virus Jonas untuk dibawa, apakah ini tujuannya untuk diteliti biar banyak yang jadi zombie super dan itu yang dimaksud Nam ra?

Dari kedua hal diatas, tentu cerita ini harus dijelaskan dengan adanya season kedua.

Rate

Akhir kata,,,,
cukuplah ya 6.9/10

Kalau kita mencari hiburan dengan nonton film seri yang tidak perlu mikir, tidak ngagetin tapi tegang terus, maka film ini cocok buat anda.

Author: @Mahendrayana.st

0 comments