REVIEW FILM TERLARIS KETIGA MIRACLE IN CELL NO 7

Miracle in Cell No 7

Ada satu lagi film yang menempati posisi ketiga dalam deretan film terlaris di Indonesia. Namun untuk kali ini, saya tidak akan membahas panjang lebar membahas hal teknis dan akan fokus kepada penceritaan saja. Untuk itu langsung saja

IDE CERITA DAN PREMIS


Film ini sebenarnya adalah adaptasi dari film korea dengan judul yang sama pada 2013. Hampir dari seluruh premis ceritanya sama persis, hanya saja ada sebagian dari cerita yang mendapatkan penyesuaian. Untuk premis dari film ini kurang lebih Dodo Rozak adalah tukang balon yang memiliki cacat mental. Bersama putrinya Kartika, mereka menjalani hidup sederhana yang bahagia. Sampai pada suatu hari, karena suatu hal, Dodo Rozak mendapatkan fitnah membunuh dan memperkosa anak kecil sampai dipenjara dan diancam dengan hukuman mati. 


Miracle in Cell No 7
Film asli yang diadaptasi

Ide dari cerita sebenarnya film ini termasuk biasa saja bahkan menurut saya tidak terlalu wow atau unik selain karena film adaptasi. Namun film ini cukup 'worth it' karena ada banyak pelajaran yang bisa kita dapat. Saya sarankan kalau mau nonton film ini, ajak teman-teman setongkrongan supaya jika 'terjadi apa-apa' bisa ketawa-tawa bareng. Kalau malu nangis di depan bapak kamu, mungkin jangan ajak bapak kamu nonton bareng film ini karena premisnya sendiri adalah film bapak-anak.


Walaupun sebagai film adaptasi, saya rasa film ini cukup keren untuk bisa menandingi film aslinya. Hanya saja, kenapa harus mengadaptasi film lain? Di Indonesia sendiri ada banyak filmmaker yang keren bahkan saya yakin imajinasi filmmaker Indonesia bisa jauh lebih baik dalam membuat cerita yang jauh lebih menyentuh daripada harus mengadaptasi apalagi ceritanya sama persis karena jika kita buat sama persis dengan aslinya ya buat apa. Dalam film adaptasi, story dan storytelingnya memang harus disesuaikan atau tidak harus sama persis 100 persen. Mungkin di sinopsisnya sama, tapi di tahap skenario dia pasti berbeda. Sementara storytelingnya itu playground yang sangat bisa diolah oleh creator barunya.


ANGGAPLAH BUKAN FILM ADAPTASI


Kita asumsikan keduanya adalah tantangan membuat film dengan premis yang sama antara kedua negara, dibuat dan dirilis bersamaan. Apakah versi indonesianya berhasil? Untuk itu, kita harus nilai keduanya secara objektif. 


Di versi Indonesia, ada beberapa hal yang cukup menggangu. Ada alasan karakter bapak dibuat down syndrome di versi Korea yaitu metafora ketidakberdayaan orang kecil, terpinggirkan, tidak paham dunia lalu dipaksa berhadapan dengan masyarakat dan negara. Untuk versi Indonesia berbeda, karakter bapak terasa seperti orang yang paham dunia tapi tidak bisa mengutarakannya karena memiliki keterbelakangan mental. Metaforanya menjadi aneh dan jadi menyalahi dari tujuan dari keseluruhan cerita. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa adengan dari Dodo Rozak yang bisa merespon joke, cepat beradaptasi dengan penjara, dan mengerti konsep surga. Berbeda dengan Lee Yong Gu yang dengan polosnya berkata kalau “dia baik, orang2 dipenjara ini jahat”.


Untuk versi korea, dalam upaya mengemis iba dan membangun kesedihan digunakan teknik dengan membuat kesengsaraan dari tokohnya. Kesedihan kita muncul karena kesenjangan antar keinginan Lee Yong Gu dan anaknya untuk sekedar bahagia bersama. Di versi Indonesia, upaya untuk mengemis iba dan membangun kesedihan dibuat dengan cara menyiksa Dodo Rozak dan tangisan Kartika dewasa yang lebih heboh dari sinetron azab. Padahal untuk melakukan membentuk kesedihan dengan teknik yang pas, film ini relatif lebih mudah. 


Di versi Indonesia ada penyesuaian dengan menambahkan cerita yang buat saya sebenarnya tidak perlu. Hal tersebut sangat mubazir dan malah serasa menuntut penjelasan baru. Sebagai penonton, penambahan ini justru membuat serasa ingin menagih bagaimana kisah antara Dodo Rozak dan istrinya lebih dalam lagi. Di versi korea lebih pas karena yang mau diceritakan memang bukan itu. Melainkan kisah ayah dan anaknya.


Untuk sisanya, saya rasa overall keduanya menunjukan kualitas yang hampir sama. Namun karena kekurangan versi Indonesia relatif cukup banyak, dari sini saya menganggap Hanung seakan mengulang kegagalanya seperti kegagalannya dalam memfilmkan novel Ayat-Ayat Cinta dan Bumi Manusia. 


JOKES DIANTARA KESEDIHAN


Demi membangun jokes diantara kesedihan, ada upaya yang cukup totalitas dimana sebagian besar dari karakter-karakter sentral menggunakan komika jebolan SUCI. Namun walaupun begitu, justru ada hal yang menurut saya cukup buruk dari teatment komedinya. Padahal sudah ada klasifikasi semua umur namun tetap saja ada jokes yang mengandung violence fisik maupun verbal yang kurang pantas apabila ditonton oleh anak-anak. Hal ini seperti mengulang kesalahan dari film-film yang diperankan oleh komika. 


Jokes panggung juga mentah-mentah dibawa ke film tanpa korelasi dengan plot membuat seolah kita jadi disuguhkan lawakan membadut daripada patahan logika. Jika sudah pernah menonton yang versi aslinya lalu menonton film ini, bisa timbul perasaan aneh, kebanyakan ketawa, meskipun beberapa materi jokenya bagus sebenernya. Di paruh awal hingga pertengahan film humornya cukup dapet mulai permainan kata dan juga punchline yang benar-benar kocak. Joke waktu baca surat untuk dihapal itu ada pesan bagus yang tersembunyi. 


TETAP SETIA MENGGUNAKAN METODE SINETRON


Baik versi aslinya (Korea) atau film ini termasuk salah satu film yang memiliki prinsip “This is Sad Movie When You Need a Cry” atau film yang memang punya niatan kuat untuk membuat penontonnya menangis atau sedih. Salah satu dari teknik mendasar dari film ini adalah lebih dari 70% dari film ini diisi dengan kesedihan sedangkan sisanya diselingi dengan jokes-jokes agar tidak tegang. Namun tetap saja keseluruhan output dari film ini adalah menangis. Di awal menangis, di pertengahan menangis, dan tentu saja di akhir pasti dibuat menangis.


Tetapi tetap saja, sebagai film Indonesia rasanya menjadi kekhasan tersendiri menggunakan metode sinetron dalam membuat kesedihan. Teknik tersebut adalah menyinggung dengan memasukkan karakter utama kedalam jurang “kebodohan”. Namun karena ini adalah film dengan karakter utama dengan keterbelakangan mental, saya rasa tidak baik membahas hal tersebut. Tetapi ada hal yang keren dimana dalam memasukkan “kebodohan” tersebut dibangun dengan hal yang masuk akal, relevan atau relate dengan kehidupan kita. Hal yang paling ketara adalah main value kita sebagai manusia ya soal keluarga. Orang bisa tertawa dengan banyak cara, tapi bagaimana caranya orang tidak sedih ketika tau orang tuanya disakiti.


Hanya saja ebagai film sedih, film ini terlalu nge-push kita buat sedih bagaimanapun caranya. Misalnya color grading dibuat kekuningan biar lebih sendu, adegan demi adegan yang sengaja dibuat terlalu lama supaya kesedihan timbul



PEMERANAN DAN AKTING


Sebagai film berbudged besar, sudah sewajarnya menggunakan berbagai aktor dan aktris yang berkelas dalam bidang akting. Beberapa aktor menggunakan komedian seperti Indro Warkop, Tora Sudiro, Bryan Domani, Indra Jegel, Coki Pardede, Tretan Muslim dan Rigen Rakelna. Hanya saja kenapa aktor yang tampil seperti hanya itu-itu saja, tidak ada aktor fresh dengan kemampuan akting luar biasa yang masuk dalam film ini. Hal ini tentu selain membuat bakat-bakat aktor yang berkemampuan tinggi tidak terlihat, juga membuat kita bosan karena film-film Indonesia selalu dipenuhi orang-orang yang sama.


Bicara soal akting, akting Vino G. Bastian sangat menonjol di film ini. Peran Dodo Rozak sangat menantang karena karakternya memiliki keterbelakangan mental yang harus diperankan secara sensitif dan hati-hati, sekaligus karakternya punya banyak spektrum emosi yang harus ditampilkan. Vino mampu membawakannya ke layar lebar dengan sangat mantap. Adegan demi adegan disusun sedemikian rupa hingga membangun klimaks yang emosional. Akting yang cukup keren adalah akting aktor berusia 10, Graciella Abigail, yang di usia belia sangat keren memerankan anak dari Dodo Rozak.


PESAN


Saya selalu berpendapat bahwa film adalah sebuah karya seni sehingga, perlakukanlah film sebagai karya seni. Oleh karena itu, dalam pembuatan film, tidak perlu kita harus berusaha membuat adanya pesan moral yang terkandung di dalamnya. Biarkan penonton yang menilai apa yang terkandung dalam film tersebut. Sebagai penonton, kita juga tidak bisa berharap dengan adanya pesan moral dalam suatu karya seni.


Namun, ada hal yang merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan dalam film ini, yaitu film ini bisa membuat penonton menarik pesan moral yang tentu saja bernilai positif. Pesan tersebut adalah tentang fitnah dan tuduhan terhadap Dodo Rozak. Karena beliau adalah orang miskin dan penyandang disabilitas, orang-orang yang dianggap lebih tinggi dari segi ‘kasta’, materi dan jabatan seenaknya menuduh beliau.


Hal seperti ini sama persis dengan makna kata-kata Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Teroesir.


"… Memang orang miskin mudah dituduh orang, walaupun bukan salahnya. Karena kemiskinannya itu saja sudah cukup dijadikan orang alasan untuk menyalahkannya."


Dalam praktiknya, kasus Dodo Rozak ini banyak sekali ada di dunia nyata. Dimana orang yang dianggap kecil ditindas dan difitnah oleh orang yang memiliki banyak harta dan status lebih tinggi demi kepentingan pribadi. Para pejabat negara, pemilik perusahaan besar, dan sejenisnya bisa dengan mudahnya menuduh orang-orang miskin tak berdaya. Mereka melakukan itu semata-mata karena ingin memudahkan urusan mereka.


Dalam agama Islam, kita diharuskan untuk menjadi kuat baik kuat dalam keilmuan, harta, kuasa dan sebagainya agar setidaknya kita lebih mudah untuk diri sendiri dan orang di sekitar dalam menjalani kehidupan di dunia. Selain itu, alangkah lebih baik lagi jika dengan kekuatan itu kita bisa merubah sistem yang ada di dunia menjadi lebih baik misalnya untuk bisa melindungi orang-orang tak berdaya seperti bapak Dodo Rozak atau mengurangi bahkan menghilangkan ketidakberdayaan tersebut. Atau menggunakan kekuatan tersebut untuk merubah hukum di negeri kita agar para hakim, jaksa, dan pengacara bisa mengemban amanahnya dengan baik tanpa tergiur akan materi dan jabatan yang menggelapkan mata sehingga bisa adil dalam memutuskan perkara


Dengan film ini pula, kita mengetahui besarnya kasih sayang orang tua dari penggambaran Dodo Rozak, sang ayah yang penuh keterbatasan berusaha sebisa mungkin membahagiakan putri kecilnya hingga rela mengakui tuduhan palsu sampai mengorbankan nyawanya demi keselamatan sang anak. Pengorbanan Dodo Rozak adalah bukti dari tulusnya cinta orang tua yang tidak dapat terhitung sampai kapanpun. Sehingga kita sebagai anak selalu hormat dan cintai orang tua kita hingga kapanpun dan keadaan bagaimanapun. Dan jangan pernah menghalangi orang lain apalagi pasangan kita untuk mengabdi kepada orang tuanya.


Author : Mahendrayana Setiawan Triatmaja

0 comments