LANGKAH MEMVERIFIKASI INFORMASI HOAKS

LANGKAH MEMVERIFIKASI INFORMASI HOAKS

Di jaman yang serba digital, dunia kita sekarang dibombardir dengan banyaknya informasi. Permasalahanya adalah bahwa sebagian besar diantara informasi tersebut hoaks atau palsu. Yang kemudian meresahkan adalah masyarakat kita tidak bisa mengetahui dengan pasti mana yang hoaks dan mana yang bukan.

Lebih parah lagi jika terdapat berita yang memecah belah, padahal tidak ada diantara kita yang yakin apakah itu hoaks atau bukan. Masyarakat lebih mempercayai suatu berita bukan karena penelusuran atas kebenaran, seringkali orang yang termakan hoaks yang beredar adalah orang yang memang fanatik terhadap hal tersebut, atau bisa jadi isi hoaks sejalan persis dengan apa yang ada dipikirannya. Persamaan pendapat menyebabkan bagian otak lain menyetujui apa yang dikabarkan. Belum lagi ditambah dengan begitu canggihnya hoaks di media sosial, baik itu dalam bentuk video, gambar atau malah suatu berita yang nampak sangat formal sekali, tidak bisa dibedakan asli atau tidak, dan benar-benar mengikuti tata naskah resmi dari organisasi tersebut.

Sudah selayaknya kita sebagai masyarakat yang baik, bisa lebih bijaksana dalam menanggapi segala pemberitaan yang beredar di masyarakat. Yang jelas, tidak semua hoaks itu bagus bagi kita, dan tidak semua yang jelek bagi kita adalah hoaks. Oleh karena itu, kali ini kita akan belajar mengenai cara mengenali dan memverifikasi berita apakah itu hoaks atau bukan, dengan cara yang paling sederhana dan mendasar yaitu dengan memanfaatkan akal yang diberikan tuhan kepada kita dengan meneliti dahulu kebenarannya. Dalam agama saya yaitu Islam dikenal dengan istilah Tabbayun.

APA ITU TABAYYUN?

Tabayyun menurut bahasa adalah "telitilah dulu". Kata tersebut dapat dilihat pada surat Al-Hujurat (49:6). Dalam ayat tersebut dijelaskan: " jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian".

Tabayyun merupakan salah satu ajaran dan tradisi umat Islam yang dapat dijadikan solusi untuk memecahkan masalah. Tradisi ini digunakan terutama untuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat. Metode tabayyun digunakan untuk mengklarifikasi serta menganalisis masalah yang terjadi. Dengan harapan mendapatkan kesimpulan yang lebih bijak, arif dan lebih tepat sesuai keadaan masyarakat sekitarnya.

Pada dasarnya, banyak sekali cara atau metode untuk bertabayyun. Salah satu contohnya adalah yang kerap dikampanyekan oleh Kementerian Kominfo kita tercinta. Namun jika menurut saya pribadi, ada 7 tahapan yang cukup sederhana dan mendasar untuk mengklarifikasi, memverifikasi dan mengidentifikasi apakah berita yang kita dapat adalah hoaks atau bukan. Mari kita langsung ke tahapanya.

Panduan dari Kominfo

TAHAP PERTAMA, DENGAN SEBUAH PERTANYAAN "APAKAH SUMBER INFORMASI ITU NYATA ATAU BENAR-BENAR ADA?"

Walaupun sebenarnya sederhana, tetapi hanya dengan tahapan ini saja kita bisa mendapatkan cukup banyak fakta apakah berita ini hoaks atau masih ada kemungkinan untuk benar. Misalnya untuk hoaks legend yang berasal dari Syeikh Ahmad Maeine sang penjaga makam Rasullulah ini.

Hoaks anak 90-an yang wajib fotokopi 40 ekspemplar atau kena sial

Sudah jelas itu adalah hoaks. Tapi darimana kita tau bahwa itu adalah hoaks? Tentunya dari verifikasi tahap pertama ini. Apakah sumber informasi (Syeikh Ahmad Maeine) itu ada?  Kalau mau benar-benar kita teliti, Syeikh Ahmad Maeine adalah tokoh fiktif. Oleh karenanya, bisa dipastikan bahwa hampir pasti atau bahkan pasti berita tersebut adalah hoaks.

Tetapi bagamana jika ternyata sumber informasi atau tokoh tersebut benar-benar ada, maka kita akan lanjut ke tahap selanjutnya.

TAHAP KEDUA, APAKAH SUMBER DARI INFORMASI TERSEBUT MEMANG MENYATAKAN DEMIKIAN?

Salah satu kelompok di Indonesia yang kebetulan sering muncul saat kondisi politik bergejolak, sering mengatakan bahwa "pilihlah Ulama yang paling dibenci oleh orang-orang kafir dan orang munafik, dan jadikanlah ia sebagai ulama yang membimbingmu, dan jauhilah Ulama yang dekat dengan orang kafir dan munafik..... " dan mengklaim bahwa hal tersebut dikatakan oleh Imam Syafii.

Blur demi kebaikan bersama

Nah dari sini kita harus melakukan verifikasi tahap pertama, Apakah sumber (Imam Syafii) benar-benar ada? Imam Syafii ternyata benar benar ada. Lalu verifikasi tahap kedua, Apakah sumber (Imam Syafii) menyatakan demikian? Apabila kita mencari sumber apapun tentang pernyataan tersebut baik dalam kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Syafii sendiri atau murid-muridnya, dalam kitab-kitab tarikh seperti Al-Kamil Fi At Tarikh karya Ibnu Atsir, Tarikh Al Islam karya Adz-Dzahabi, Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir, dan kitab-kitab lainnya. Begitu juga dengan biografi ulama baik oleh Imam Syafii ataupun yang lainnya, ternyata sama sekali tidak ditemukan kutipan tersebut. Bisa ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya Imam Syafii memang ada, tetapi tidak pernah menyatakan seperti itu. Maka sudah jelas bahwa ini adalah hoaks. 

Lalu kenapa hoaks yang mencatut nama Imam Syafii ini dibuat? Kita tidak pernah tau itu. Tetapi ada banyak dugaan bahwa "pilihlah ulama yang dibenci... " adalah melakukan suatu pembenaran atas suatu tindakan yang tidak 'islami' yang dilakukan oleh suatu kelompok yang mengatasnamakan Islam dengan cara mencatut nama tokoh berpengaruh dan menciptakan dalil palsu.

Tetapi jika tokoh tersebut benar-benar ada, dan yang bersangkutan benar-benar menyatakan demikian apakah masih bisa dianggap hoaks? Tetap bisa. Oleh karenanya kita akan lanjut ke tahap selanjutnya.

TAHAP KETIGA, APAKAH SUMBER DARI INFORMASI TERSEBUT MEMANG BERMAKSUD MENYATAKAN DEMIKIAN?

Pernah mendengar pidato legend dari bapak Ir. Soekarno "Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah!"? Atau pernyataan Karl Mark yang mengatakan "Agama adalah candu".

Pasti hampir semua dari yang membaca ini mengira bahwa yang dikatakan oleh Bapak Ir. Soekarno menekankan kita semangat untuk mencari ilmu atau memetik pelajaran dari masa lampau agar kita bisa mengetahui identitas hari ini. Padahal apabila kita mau menelisik lebih dalam, pada saat mengatakan itu, Bapak Ir. Soekarno sedang membela PKI. Makna "Jangan sekali-kali melupakan sejarah" itu adalah "Bukan hanya ulama, PKI juga turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia".  

Video aslinya dalam arsip Nasional

Lalu bagaimana yang dimaksud Karl Marx? Memang, kita mengenal Karl Marx sebagai atheis dan sering mengkritik agama. Namun dalam konteks "Agama adalah candu" adalah ucapan Karl Mark adalah justru dalam rangka membela agama. "Agama adalah candu" yang dimaksud Karl Marx adalah, saat itu adalah masa revolusi industri, sedang banyaknya banjir darah, keringat, polusi, dan segala masalah lainnya sehingga banyak orang yang mencari pelarian, Apabila kita lihat dari buku " Critique of Hegel's Phylosophy of Right", ada kutipan menarik yaitu "Agama adalah desah napas keluhan dari makluk yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati, jiwa dalam kondisi yang tak berjiwa. Agama adalah candu bagi masyarakat". Candu yang dimaksud sendiri adalah 'opium', penenang batin yang bisa menenteramkan hati dari gejolak dunia yang terlampau kejam. Sehingga maksud Karl Marx pada waktu itu sebenarnya adalah justru membela agama. 

Setelah melakukan verifikasi tahap ketiga ternyata tokoh tersebut benar-benar ada, yang bersangkutan benar-benar menyatakan demikian, dan maksudnya ke arah sana, apakah masih bisa dianggap hoaks? Tetap bisa. Oleh karenanya kita akan lanjut ke tahap selanjutnya.

Ada yang pernah membaca?

TAHAP KEEMPAT, APAKAH PERNYATAAN ITU ADALAH KESIMPULAN AKHIR?

Banyak sekali hoaks beredar karena orang tidak mengerti maksud dari kesimpulan atau belum menelusuri seluruh pemikiran maupun narasi dalam sebuah informasi. Perlu diingat bahwa orang besar terkadang memiliki pemikiran yang cukup kompleks dan tidak jarang pendapatnya berganti. Dalam Islam sendiri pasti mengenal Imam Syafii yang membuat 2 majmu fatawa, yaitu Qadim dan Jadid. Oleh karenanya dalam menarik pendapat Imam Syafii, kita perlu mempelajari seluruhnya dan mengambil versi akhir atau posisi final dari pendapat tersebut apabila terdapat perubahan pendapat.

Lalu apabila kita mempelajari tentang Ibn Rushd, ketika beliau menulis buku tentang Aristoteles sampai berkali-kali. Nah karena itu kita perlu mempelajari seluruh pendapatnya dan pendapat yang seharusnya kita ambil adalah pendapat yang terakhir karena apabila kita menggunakan pendapat sebelumnya, tentu saja hal tersebut bukanlah posisi final karena kita belum tau keseluruhan pemikiran dan narasinya.

Buku klasik yang terkenal

Keempat tahapan tersebut sudah kita lakukan, tetap masih bisa dibilang hoaks dan masih harus menuju tahap selanjutnya.

TAHAP KELIMA, APAKAH SUMBER KREDIBEL DAN TERPERCAYA?

Di Indonesia sendiri sangat banyak semisal pemain band dianggap sumber pengetahuan, teknologi, astronomi dan sebagainya. Ada dokter hewan namun dipercaya sebagai dokter yang ahli menangani virus. Ada orang yang tidak kita kenal siapa dia, membuat youtube, membuat paham atau pernyataan kontroversial, lalu dipercaya oleh banyak orang. Jika iya maka masyarakat Indonesia yang menonton sudah tersuguhi oleh hoaks.

Sosoknya tidak tahu pasti yang mana

Memang, kita tidak bisa semata-mata menganggap bahwa mereka yang tidak memiliki gelar akademik, sertifikasi dan sejenisnya berarti tidak layak dipercaya. Mengingat di saat ini banyak sekali orang yang memiliki gelar namun secara kemampuan masih kalah dengan mereka yang tidak memiliki gelar, sertifikasi atau sejenis itu. Namun apabila sumbernya adalah orang yang diragukan, tidak ada sejarah keahlian, kredensial dan sejenisnya di bidang tersebut, tidak diakui apalagi tidak kita kenal sama sekali, maka perlu diragukan kredibilitasnya. 


TAHAP KEENAM, APAKAH MEDIA YANG MENYAMPAIKAN JUJUR DAN BENAR?

Dengan perlindungan hukum pers, terkadang media apapun itu, baik resmi atau tidak, sudah secara sengaja menyalahgunakannya dengan memberikan banyaknya informasi yang tidak benar demi rating, traffic dan cuan tentunya. Tentu saja karena saya sendiri dahulu pernah berkecimpung di bidang ini. Terkadang memang tidak ada niatan untuk itu, namun karena satu dan lain hal, media tetap saja bisa memberikan informasi yang digolongkan hoaks.

Kamu termasuk yang percaya dan pernah share?

Entah kenapa hampir semua media baik media abal-abal sampai berita nasional sama-sama menyebarkan berita dengan narasi yang sama persis tanpa adanya crosscheck terlebih dahulu. Hal ini membuktikan adanya budaya copy paste di dalam dunia media itu sendiri. Narasi Jancok yang berasal dari tank M3 Stuart bertuliskan Jan Cox tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak valid dari sisi sejarah dan salah dari sisi ejaan. 

Apabila kita benar-benar runut dari sisi sejarah, jika kita buka dari national archive Netherland, foto itu sama sekali bukan di Surabaya, tapi di Garut, Jawa Barat. Jika dilihat dari tanggal diambilnya foto, tank tersebut diambil 2 bulan sejak agresi militer belanda 1. Dan jika kita runut sejarah lagi, disimpulkan tank M3 Stuart tidak pernah digunakan di Jawa Timur. Lalu kita analisa dari sisi ejaan. Di masa itu Indonesia sampai 1947 masih menggunakan ejaan Van Ophujsen, dan ejaan Suwandi sampai 1972 dimana sampai tahun 1972 pun, tulisan Jan Cox pada saat itu akan dibaca sebagai "yan koks". Jan Cox sendiri adalah nama pelukis dari Belanda yang mana kemungkinan operator tank ngefans dengan beliau. 

Bapak Jan Cox

Itu hanya sebagian kecil, banyak sekali sebenarnya berita-berita tidak benar yang ada di media. Bahkan, jurnalis dan pengarang dari Inggris, Paul Johnson, mengungkapkan setidaknya ada 7 dosa media masa :

  • Distorsi informasi
  • Dramatisasi fakta palsu
  • Mengganggu privasi
  • Pembunuhan karakter
  • Eksploitasi seks
  • Meracuni pikiran anak-anak
  • Penyalahgunaan kekuasaan

Paul Johnson

Jadi apabila sudah sampai validasi informasi sampai tahap 5, kita tetap harus menelisik apakah media yang menyampaikan informasi tersebut menyampaikan secara jujur dan benar atau tidak. Bagaimana jika ternyata benar, tetap lanjut lagi ke tahapan selanjutnya.

TAHAP KETUJUH, APAKAH LATAR BELAKANG SUMBER?

Terlepas dari siapapun yang mengatakannya, latar belakang sumber bisa menjadi validitas dari sumber tersebut. Misalnya saja Aristoteles, apakah beliau bisa berbohong? Ya tentu bisa saja. Kita coba pelajari salah satu pernyataan Aristoteles dimana beliau sempat bilang bahwa ulat berasal dari daging yang busuk. Berarti Aristoteles salah? Tidak juga. Oleh karenanya kita harus melihat latarnya (jamannya, masanya, keadaan sosial politik pada masa itu dll.). Ada kemungkinan hal tersebut salah karena beliau hidup di latar yang kurang mengakomodasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga Aristoteles masih bisa salah dalam hal ini dan kita dapat dianggap masuk ke dalam hoaks. 

Hoaks nabi Muhammad SAW pedofil

Hal yang sering terjadi adalah informasi yang dapat menyulut sebagian penganut agama Islam tentang Nabi Muhammad yang menikahi anak berusia 6 tahun, atau dalam sumber lain 9 tahun. Atau informasi yang menyulut sebagian penganut agama kristen dimana Yusuf menikahi Maria ketika berusia 90 tahun dan Maria berusia 13 tahun. Sebenarnya hal tersebut belum tentu juga bohong dikarenakan pada masa itu adalah hal lumrah jika gadis-gadis menikah di usia kurang dari 15 tahun.

Apabila kita ingin mendeteksi hoaks secara lebih akurat, maka ada tahapan ke 8 sampai mungkin ke 15. Namun saya tidak akan bahas karena di tahap ketujuh ini sendiri sudah cukup sulit dan memerlukan cukup banyak mempelajari latar terjadinya suatu peristiwa. Bahkan, hanya 'orang-orang yang berpikir' yang mampu memverifikasi sampai tahap ini. Sejujur apapun manusia, pendapatnya pasti dipengaruhi bahkan tergantung latar ruang dan waktu serta semua hal yang melingkupinya dimana ia berbicara. Kita juga harus mengetahui landasan idiologi dari sumber. Jika gagal disini maka kita bisa masuk ke dalam hoaks. Memang, sudah cukup di tahap ketujuh ini karena kita sudah dapat secara drastis meminimalisir tingkat hoaks walaupun sebenarnya masih dapat dimungkinkan kita termakan hoaks. Semoga kita adalah golongan 'orang-orang yang berpikir'.
 
Author: Mahendrayana Setiawan

0 comments