Karakter Penyandang Disabilitas Dalam Film

Nussa, tokoh animasi dengan karakter disabilitas
Pernah nonton film yang berupa animasi, kartun atau apapun itu yang karakternya terlalu sempurna seperti malaikat? Ya yang seperti itu umumnya membosankan dan sangat menjengkelkan. Film dengan tokoh tanpa kekurangan juga akan mempersulit penulis karena akan kesulitan membangun konflik dan emosi. Selain karakter, salah satu kekurangan manusia yang lumayan sering ditambahkan dalam film adalah disabilitas.

Ketika kata disabilitas disebut, banyak orang yang menganggap atau membayangkan tokoh yang menggunakan kursi roda atau kehilangan anggota badan. Padahal disabilitas tidak selalu begitu. Ada banyak tokoh penyandang disabilitas dalam berbagai film kartun yang sering kita tonton. Banyak orang tidak menyadarinya, namun semoga tulisan ini melihat tokoh-tokoh tersebut dengan cara berbeda mulai saat ini.


Nobita (Doraemon) - Disabilitas Intelektual, Kesulitan Belajar



Di film Doraemon, tokoh Nobita digambarkan sebagai anak yang sangat sulit dalam belajar. Ia sering mendapatkan nilai yang buruk di seluruh mata pelajarannya. Kondisi Nobita ini bisa termasuk ke dalam disabilitas intelektual kesulitan belajar. Yang termasuk dalam kondisi yang dialami Nobita antara lain:


Disleksia. Gangguan yang menyebabkan seseorang kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Sering sekali ada adegan dimana Nobita tidak bisa membaca tulisan kanji, dan kesulitan menghafalnya, sehingga membuatnya stress sehingga meminta bantuan Doraemon. 


Disgrafia. Gangguan belajar yang membuat seseorang kesulitan menuliskan dan mengekspresikan pikiran dan perasaannya dalam tulisan. Setiap libur musim panas, Nobita selalu meminta bantuan Doraemon untuk membuat laporan liburannya. 


Diskalkulia. Gangguan yang menyebabkan seseorang kesulitan untuk berhitung dan melakukan operasi matematika. Ini adalah alasan yang seringkali membuat ibu Nobita marah padanya karena sering mendapatkan nilai nol, terutama dalam matematika.


Patrick Star (SpongeBob SquarePants)- Disabilitas Intelektual, Tunagrahita


Sekilas Patrick memang terlihat baik-baik saja walaupun tingkahnya yang lucu dan nyeleneh membuat film Spongebob Squarepants menjadi semakin lucu dan terkadang menyebalkan. Namun jika dilihat dari caranya berkomunikasi, kemampuannya memahami instruksi dan percakapan, seringkali melakukan kesalahan dalam melakukan sesuatu. Dia juga mudah lupa, terkadang emosional, dan kesulitan membuat keputusan dan memecahkan masalah, tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Patrick memiliki banyak ciri-ciri disabilitas intelektual, yakni Tunagrahita.


Tunagrahita adalah kondisi dimana seseorang memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata, sehingga mengalami banyak kesulitan dalam kehidupan sehari-harinya. Kepribadian Patrick yang selalu tampak bahagia juga terjadi pada banyak orang Tunagrahita. Banyak Tunagrahita yang pembawaannya ceria, namun tidak sedikit juga yang pembawaannya murung dan tidak bersemangat.


Masih ada banyak orang yang menggunakan istilah Mental Retardasi untuk menyebut Tunagrahita. Istilah ini sudah diganti menjadi "Gangguan Perkembangan Intelektual" atau "Disabilitas Intelektual" karena Retardasi dianggap sebagai hinaan, ejekan, dan bully, karena memiliki persamaan arti dengan bodoh dan idiot.


Dory (Finding Nemo & Finding Dory) - Attention Deficit Disorder


Pada film Finding Dory, tokoh utama film ini, yakni Dory, juga merupakan penyandang disabilitas. Ikan berwarna biru yang juga bermain di film Finding Nemo ini adalah ikan yang mudah lupa, sulit memahami pembicaraan, dan tidak fokus. Ciri-ciri tersebut merupakan bagian dari disabilitas intelektual yakni Attention Deficit Disorder atau ADD. Pada penyandang ADD, mereka memiliki kesulitan untuk fokus pada objek atau pembahasan tertentu. Biasanya, kondisi ADD juga berkaitan dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), yakni gangguan pemusatan perhatian yang disertai dengan perilaku impulsif dan hiperaktif.



Nussa (Nussa) - Disabilitas Fisik, Tunadaksa pengguna Kaki Prostetik


Kartun Nussa memang banyak mengundang kontroversi karena dianggap mengajarkan radikalisme. Banyak buzzer yang beramai-ramai memaparkan narasi serupa, namun fokus saya bukan itu. Tokoh utama kartun ini digambarkan sangat jelas sebagai penyandang disabilitas. Nussa terlahir dengan kondisi kaki yang tidak sempurna, sehingga ia membutuhkan kaki palsu (prostetik) untuk membantunya berjalan. Nussa adalah tokoh kartun dengan disabilitas pertama di indonesia. CEO The Little Giantz, Aditya Triantoro, memiliki alasan khusus mengapa Nussa digambarkan sebagai disabilitas. Tujuannya menciptakan Nussa sebagai disabilitas adalah untuk menunjukkan bahwa disabilitas juga bisa.


Ijat (Upin Ipin) - Speech Delayed


Umumnya, di usia anak TK, seorang anak sudah bisa berbicara dengan jelas, mampu menyatakan keinginannya, pikirannya, dan perasaannya. Namun Ijat, teman sekelas Upin dan Ipin, masih belum bisa berbicara dengan jelas, masih terbata-bata, sehingga seringkali hanya "ah-uh-haa" saja yang diucapkannya, atau berkomunikasi menggunakan isyarat.


Ijat memiliki disabilitas Speech Delayed, yakni terlambat bicara. Jika sampai SD Ijat masih belum bisa berbicara, ia tidak lagi digolongkan terlambat bicara. Tetapi sebenarnya kondisi Ijat sudah termasuk disabilitas hambatan komunikasi, karena sudah semakin kompleks pemahaman komunikasi yang tidak dipahaminya. Sebaiknya ada adegan orang tua Ijat membawanya ke terapi wicara.

Toph Boy Fong (Avatar: The Last Airbender) - Tunanetra


Salah satu tokoh terbaik dan andalan dalam film Avatar: The Last Airbender adalah Toph, si pengendali bumi tunanetra. Ia adalah tokoh perempuan yang pemberani, dan memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa. Walaupun ia tidak bisa melihat, Toph dapat merasakan pergerakan orang dan objek di sekitarnya melalui getaran di tanah.




Lebih baik memanggil Tunanetra atau Buta? Umumnya, orang dengan hambatan penglihatan lebih senang dipanggil dengan sebutan Tunanetra, walaupun pada banyak penyandang disabilitas penglihatan tidak masalah dengan panggilan Buta.


Arnold (Hey Arnold!)- Hydrocephalus


Tokoh dan latar belakang cerita film Hey Arnold! diambil dari kisah nyata sebuah daerah miskin di New York yang mana saat itu creatornya bertemu dengan anak hydrocephalus berusia 9 tahun. Hydrocephalus adalah kondisi penumpukan cairan di otak yang mengakibatkan peningkatan tekanan pada otak. Anak dengan hydrocephalus memiliki kepala yang membesar dan terus membesar jika tidak segera ditangani.


Namun penggambaran anak dengan hydrocephalus pada tokoh Arnold tidak sesuai dengan fakta. Arnold digambarkan sangat aktif bergerak dan tidak memiliki permasalahan tumbuh kembang. Bentuk kepala penderita hydrocephalus juga seharusnya membesar ke atas, sehingga kening terlihat menjadi lebar. Sementara pada tokoh Arnold, ia digambarkan memiliki kepala yang melebar ke samping. Jika tokoh Arnold diambil dari kondisi anak hydrocephalus yang nyata, ada kemungkinan anak akan memiliki beberapa permasalahan tumbuh kembang.


Baca: Apakah film fiksi harus sesuai realitas?


Cat Dog (Cat Dog) - Kembar Siam


Kondisi kembar siam beda spesies kucing dan anjing seperti di film Cat Dog ini tidak ada di kondisi nyata. Karena tidak memungkinkan spesies seperti ini hidup, disebabkan oleh tidak adanya sistem pencernaan, ekskresi, dan reproduksi yang sempurna pada kembar siam sejenis Cat Dog. Untungnya ini kartun. 


Jika kita merujuk ke definisinya, karakter-karakter yang sudah disebutkan memang penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Sementara itu, difabel adalah istilah yang lebih halus untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami disabilitas. Tanpa mengolok-olok dan justru menganggap mereka yang difabel sebagai sosok yang 'sama' adalah yang sepatutnya kita lakukan. Sudah saatnya para penulis cerita film tak lagi berfokus pada karakter bak malaikat tanpa cela, sebab berani mengangkat dan menonjolkan karakter kaum difabel sebagai bagian dalam kehidupan bersosial justru menjadi nilai tambah bagi karyanya.


Author: Mahendrayana Setiawan Triatmaja

0 comments