Lagi rame tentang “Star syndrom” nih, yaitu kondisi dimana sesorang menginginkan treaatment khusus karena merasa dirinya adalah seorang selebriti. Namun, konteks “star syndrom” biasanya justru negatif dimana perasaan sebagai selebriti itu hanya semu belaka. sebenarnya siapa sih selebritis itu? apa bedanya dengan artis? Terkadang banyak orang yang salah dalam mengartikan artis dan selebriti. Hampir semua orang yang tampil di TV sering disebut sebagai artis.  Untuk itu mari kita luruskan dan kita bandingkan perbedaannya.

Definisi artis

Arti artis di KBBI adalah: ahli seni; seniman, seniwati (seperti penyanyi, pemain film, pelukis, pemain drama).

Sedangkan arti selebriti adalah: orang yang terkenal atau masyhur (biasanya tentang artis).

Memang di Indonesia terdapat banyak yang mengatakan “artis” sebagai kata lain dari selebriti. Padahal sebenarnya makna dari kedua hal tersebut sangatlah beda. Artis itu seniman, artinya jika kita adalah pelukis, penyanyi, pesulap, filmmaker, content creator, aktor film, pembuat puisi, komposer atau apapun pekerjaan kita yang umumnya menghasilkan suatu karya, berarti kita adalah artis. 

Sedang selebriti, berasal dari kata celebrity, akar katanya celebrate, atau yang dirayakan. Secara harfiah, dapat diartikan sebagai seseorang yang keberadaannya dirayakan, atau dielu-elukan, dan dipandang sebagai sesuatu yang besar. Umumnya sih karena kegiatan berseni mereka mulai dari musik, akting, atau bahkan karena terus-menerus menjadi sensasi di media sosial. Artinya apa? Memang hampir semua atau semua selebriti adalah artis tetapi belum tentu artis adalah selebriti.

Lah bagaimana bisa kok hampir semua atau semua selebriti adalah artis? 

Ya bisa kita lihat dari list selebriti yang pernah kita kenal, coba disebut siapa yang kita tau, mana yang bukan artis atau seniman? Mungkin banyak yang berpendapat demikian karena ada lho selebriti yang gak punya kemampuan memproduksi seni atau tidak punya karya. Sebenarnya harus kita tahu bahwa produksi sensasi atau hasil dari mempermainkan emosi orang itu juga adalah seni. Membuat sensasi itu juga perlu keberanian yang sangat tinggi, persiapan mental dan kemampuan akting bukan? 

Bagaimana cara selebriti bekerja?

Sebelum itu kita saksikan dulu pertandingan catur GM Utut Adianto melawan Deddy Corbuzier jaman masih aktif jadi tukang sulap. 

Dalam pertandingan itu, tentu saja yang ditampilkan adalah seni sulap Deddy Corbuzier yang sudah memprediksi gerakan permainan caturnya. Ya permainan tersebut sudah dipersiapkan terlebih dahulu gerak kemana dan kemana beserta gambar prediksinya. Harapan dari pertunjukan ini adalah penonton beranggapan hasil akhirnya adalah Deddy menang melawan GM Utut

Namun tidak mungkin kan GM Utut dibuat kalah dengan Deddy Corbuzier? Nanti akan merusak harkat dan martabat GM Utut. Oleh karenanya skenario harus GM Utut menang melawan Deddy dan Deddy Corbuzier, karena wajar Deddy bukan pecatur. Permainan juga dibuat seolah² sangat serius dengan Deddy Corbuzier berakting berpikir keras melawan GM Utut tentunya dengan sesuatu yang sebenarnya sudah diatur sebelumnya. Tapi apakah ada yang tau bahwa semua yang terjadi adalah setingan belaka? Ya disitulah seninya. Hal itu sangat cukup menggambarkan cara kerja selebriti yang biasa menghiasi media kita. 

Kritik dalam dunia selebriti

Saat ini, banyak selebriti yang dibilang kurang berkualitas dan bahkan menurut saya pribadi sangat tidak layak bekerja didunia hiburan Indonesia. Ada beberapa selebriti yang attitude nya buruk namun tetap saja kerja didunia hiburan atau bahkan menjadi influencer. Adapun yang hanya bermodalkan cablak dan menerobos rasa malu membuat mereka bisa menjadi artis terkenal. Hal ini sangat saya kritisi. ini pun berpengaruh pada kualitas selebriti dan artis Indonesia secara umum. Walaupun ada beberapa yang layak, namun ketika orang-orang yang kurang layak itu yang tersorot, tetap saja yang akan tercoreng adalah kualitas artis Indonesia secara keseluruhan.

Namanya selebriti, orang yang dielu-elukan, dicap sebagai kiblat, mereka akan dicontoh oleh sebagian kalangan orang yang belum bisa rasional dalam berfikir setidaknya untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk. Semua ucapannya, tindakannya tokoh publik didunia hiburan akan cepat ditiru khususnya oleh anak-anak dan remaja karena mereka mencontoh dan meniru apa yang biasanya mereka lihat. Bahkan ada sebagian orang tua juga yang masih ikut terbawa arus.

Stasiun TV pun juga tidak memilih dan memberikan standar untuk pekerja didunia hiburan seperti ini. Kasarnya dengan menggunakan patokan “asal viral” dapat menjadikan seseorang yang seperti apapun masuk TV. Ada banyak sekali contoh, misalnya pembuat video tiktok yang viral dia diundang di salah satu stasiun TV. Setelah ditelusuri ternyata video Tiktoknya pun hanya joget-joget gak jelas, bukan karena kontennya menarik dan berfaedah. Orang pun jadi berpikir, “ternyata mencari batu loncatan untuk bisa menjadi selebriti itu sangat mudah ya?” Orang pun berlomba-lomba untuk melakukan hal tidak bermutu serupa. 

Kita semua tau bahwa itu adalah bisnis, namum kenapa jika bisnis tidak memberikan sesuatu yang berkualitas? Korea Selatan, negara yang saat ini punya bisnis hiburan salah satu di dunia yang termantab dan saat ini sedang banyak diminati tayangannya oleh masyarakat Indonesia bisa menjadi contoh. Mulai dari penyanyi, penari, aktor, dll. dipilih menggunakan standar yang tinggi. Para idol bekerja didunia hiburan dengan bersusah payah menjalani masa pelatihan dan pengalaman selama bertahun-tahun agar layak masuk didunia hiburan. 

Disisi lain, kita tak akan melupakan selebriti yang cukup berkualitas di Indonesia seperti Agnesmo, Maudy Ayunda, Joe Taslim, dan banyak lagi. Beberapa dari Mereka sudah mampu mengharumkan nama Indonesia dikancah dunia. Apa salahnya stasiun TV Indonesia membuat standar layak agar menghasilkan selebriti yang berkualitas?

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: